Wednesday, May 9, 2018

Rasyid Baswedan : Berani melawan, maka berani ditahan.

Namanya Rasyid Baswedan, Ayah adalah pribadi yang amat stabil, lempeng dan tegas. Di siang hari bekerja keras, mengajar di sekolah dan kampus. Di malam hari jadi penutur dongeng bagi anak-anaknya. Dongengnya penuh variasi mulai dari yang lucu hingga cerita sedih atau cerita menegangkan. Semua adalah dongeng karangannya sendiri.

Meja makan di rumah jadi saksi ayah mengijinkan anak2nya diskusi & debat, termasuk bila berbeda pandangan dengannya. Beliau tidak mengatur pikiran, tapi mengatur cara & adab dalam mengungkapkan pikiran.

Dengan diboncengkan vespa, Ayah antarkan saya yg masih duduk di bangku SD untuk jadi anggota perpustakaan di Harian Kedaulatan Rakyat. Hari Minggu, sama-sama membersihkan vespa dan sebulan sekali menguji mesin sambil membersihkan busi mesin vespa.

Ayah selalu menjaga semangat utk terus berjuang dan tetap teguh walau ada hantaman. Pesannya: "Kalau mau bebas hantaman ya duduk2 santai aja di rumah; kalau berjuang maka tantangan & hantaman adalah kenormalan". .

Abdurrahman Baswedan, Ayahnya Ayah. Kami sekeluarga, Ayah—Ibu dan tiga anak, menempati satu kamar di rumah Kakek. Kadang2 suka heran, bgmn bisa sekamar diisi 5 orang; tp waktu itu biasa2 saja dan semua enjoy.

Karena serumah, maka saat masih di bangku TK, Kakek selalu jemput dan langsung ajak jalan kaki ke kantor pos. Tiap hari beliau ke kantor pos, kirim surat atau kirim artikel utk koran atau majalah sambil olahraga. Ada sebuah pesan singkat dari Kakek: "Begitu ada waktu senggang maka baca, baca buku apapun. Jangan buang waktu tanpa baca."

Suatu ketika, saya duduk di bangku kelas 4 SD, paman ditangkap karena dia aktivis mahasiswa yg memprotes NKK-BKK. Dari UGM dibawa ke Semarang. Ditahan beberapa bulan oleh Kopkamtib tanpa proses pengadilan dll. Ayah rutin menjenguk bawa buku dan makanan. Kakek ikut mendirikan Republik ini, dan saat-saat anak bungsunya itu ditahan oleh pemerintah republik ini, ia berpesan pada semua keluarga: jangan pernah khawatir; ini konsekuensi sebuah perjuangan, biasa saja. Berani melawan, maka berani ditahan.

Itulah Ayah dan Ayahnya Ayah.

Namanya Rasyid Baswedan, Ayah adalah pribadi yang amat stabil, lempeng dan tegas. Di siang hari bekerja keras, mengajar di sekolah dan kampus. Di malam hari jadi penutur dongeng bagi anak-anaknya. Dongengnya penuh variasi mulai dari yang lucu hingga cerita sedih atau cerita menegangkan. Semua adalah dongeng karangannya sendiri. . Meja makan di rumah jadi saksi ayah mengijinkan anak2nya diskusi & debat, termasuk bila berbeda pandangan dengannya. Beliau tidak mengatur pikiran, tapi mengatur cara & adab dalam mengungkapkan pikiran. . Dengan diboncengkan vespa, Ayah antarkan saya yg masih duduk di bangku SD untuk jadi anggota perpustakaan di Harian Kedaulatan Rakyat. Hari Minggu, sama-sama membersihkan vespa dan sebulan sekali menguji mesin sambil membersihkan busi mesin vespa. . Ayah selalu menjaga semangat utk terus berjuang dan tetap teguh walau ada hantaman. Pesannya: "Kalau mau bebas hantaman ya duduk2 santai aja di rumah; kalau berjuang maka tantangan & hantaman adalah kenormalan". . . Abdurrahman Baswedan, Ayahnya Ayah. Kami sekeluarga, Ayah—Ibu dan tiga anak, menempati satu kamar di rumah Kakek. Kadang2 suka heran, bgmn bisa sekamar diisi 5 orang; tp waktu itu biasa2 saja dan semua enjoy. . Karena serumah, maka saat masih di bangku TK, Kakek selalu jemput dan langsung ajak jalan kaki ke kantor pos. Tiap hari beliau ke kantor pos, kirim surat atau kirim artikel utk koran atau majalah sambil olahraga. Ada sebuah pesan singkat dari Kakek: "Begitu ada waktu senggang maka baca, baca buku apapun. Jangan buang waktu tanpa baca." . Suatu ketika, saya duduk di bangku kelas 4 SD, paman ditangkap karena dia aktivis mahasiswa yg memprotes NKK-BKK. Dari UGM dibawa ke Semarang. Ditahan beberapa bulan oleh Kopkamtib tanpa proses pengadilan dll. Ayah rutin menjenguk bawa buku dan makanan. Kakek ikut mendirikan Republik ini, dan saat-saat anak bungsunya itu ditahan oleh pemerintah republik ini, ia berpesan pada semua keluarga: jangan pernah khawatir; ini konsekuensi sebuah perjuangan, biasa saja. Berani melawan, maka berani ditahan. . Itulah Ayah dan Ayahnya Ayah. Selamat Hari Ayah !! *ABW. . #HariAyah #HariAyahNasional
A post shared by Anies Baswedan (@aniesbaswedan) on

Tuesday, May 8, 2018

Ippho Santosa : Siapakah Presiden Indonesia yang paling sedikit haters-nya?


Di antara semua, siapakah Presiden Indonesia yang paling sedikit haters-nya? Coba tebak. Kemungkinan besar jawabannya adalah BJ Habibie. Setuju? Setuju atau tidak, silakan teman-teman lanjut membaca.

Sewaktu berada di rumah Eyang Habibie, saya sempat nanya-nanya perihal pribadi sama beliau, di samping membahas program-program beliau untuk negeri ini. Ternyata sewaktu kecil beliau susah tidur. Ya, susah tidur.

Adalah sang ayah yang gemar mengaji, dua juz sehari. Ternyata lantunan ayat suci sang ayah ini berhasil menidurkan Habibie cilik. Kisah ini kemudian saya sampaikan ke sahabat saya, Kang Abik, penulis Ayat-Ayat Cinta.

Kang Abik langsung teringat surat Al-Kahfi, bagaimana kesolehan orangtua bisa menjaga anak dan keturunannya. Karena sangat menggugah, tulisan ini boleh di-share. Sekarang, boleh. Sebentar lagi juga boleh.

Begitulah. Ayah beliau rutin mengaji dua juz sehari. Istri beliau (Bu Ainun) bisa khatam Al-Quran hanya dalam beberapa hari. Dan beliau sendiri, belakangan ini, menghabiskan setengah waktunya bersama Al-Quran.

Menariknya, Habibie muda pernah belajar di sekolah non muslim selama sekian tahun. Bahkan ibunya mengizinkan Habibie muda mengikuti pelajaran agama lain. Karena sang ibu yakin dengan iman anaknya dan ingin wawasan anaknya bertambah.

Inilah cuplikan-cuplikan kisah yang saya dengar langsung dari beliau dalam sejumlah pertemuan. Bukan kata orang. Boleh dibilang, perpaduan antara imtaq dan iptek, beliau adalah kyai-nya. Itu menurut saya.

Sewaktu Eyang Habibie jadi presiden, ada pengawal beliau yang sangat setia, anggota Kopassus. Saat Eyang Habibie tidak lagi jadi presiden, pengawal itu memilih meninggalkan kesatuannya untuk tetap bersama Eyang Habibie.

Pengawalnya itu bercerita banyak hal tentang tawadhu-nya Eyang Habibie, baik saat jadi presiden maupun setelah itu. Sampai sekarang, sebagian besar orang di negeri ini menyukai beliau. Hampir-hampir tanpa haters. Beda dengan politisi lain yang berderet-deret haters-nya.

Untuk menyimak kisah Eyang Habibie lainnya, silakan klik >> http://bit.ly/EyangHabibie

Semoga Yang Maha Kuasa memberkahi umur Eyang Habibie. Penuh rahmat dan selalu sehat. Aamiin. Bantu share ya. Dengan di-share, mudah-mudahan semakin banyak anak muda Indonesia yang terinspirasi dan termotivasi.

Ippho Santosa : Bersungguh - Sungguh Dalam Memilih Nama atau Merek


Apalah arti sebuah nama? Ujar seorang pujangga. Dia keliru. Nama sangatlah berarti. Terbukti, dia bangga dengan namanya dan tidak mau diganti namanya.

Menurut survey, wanita dengan nama Jennifer dipersepsi lebih cantik daripada wanita dengan nama Gertrude. Memang, ini hanya persepsi. Tapi, bukankah segala sesuatu berawal dari persepsi (first impression)?

Di Barat, sebuah riset dilakukan oleh situs The Knowledge Academy untuk mengetahui nama-nama wanita seperti apa yang cenderung sukses berkarier.

Mereka pun berusaha mencari tahu nama-nama wanita dari 500 ribu CV. Tepatnya, data ini berupa nama depan dan gaji tahunan mereka. Ternyata seru juga.

Dan inilah tiga nama wanita yang menurut riset berpendapatan besar, yaitu Lily, Isabella, dan Ella. Selain itu, nama-nama wanita lain yang menurut riset berpendapatan besar adalah Amelia, Emily, Mia, Jessica, dan Olivia.

Tentu saja, ini di Barat. Bukan di Indonesia.

Dalam Islam, nama itu doa. Hendaknya dipilih yang baik-baik. Nabi Muhammad bahkan pernah mengganti nama seseorang karena nama orang itu mengandung makna yang tidak baik.

Adapun umat Kristiani berpegang pada Amsal 22:1 yaitu, "Lebih utama memilih nama yang baik daripada kekayaan yang melimpah." Ya, nama bukan sesuatu yang sepele.

Maka, sudah semestinya kita berhati-hati dan bersungguh-sungguh dalam memilih nama atau merek (brand). Jangan asal. Jangan dangkal. Sekian dari saya, Ippho Santosa.

Ippho Santosa : Sebab Sederhana Penghantar Kita pada Kekayaan


Ada dua sebab sederhana yang mengantarkan kita pada kekayaan. Pertama, karena lihai mendapatkan uang. Kedua, karena pandai mengelola uang. Dulu, Whitney Houston lihai mendapatkan uang, namun kurang pandai mengelola uang. Sekarang, kita tahu sendiri akhir hidupnya seperti apa.

Nah, kali ini kita membahas bagaimana mengelola uang. Sekilas saja.

Saran saya, hiduplah di bawah kebutuhan. Sederhana. Sebagian orang berasumsi, banyak barang mewah yang harus dia beli hanya untuk membuktikan dirinya kaya. Apa-apa dia beli. Padahal nggak perlu. Buat apa? Boleh-boleh saja membeli barang mahal, asalkan itu memang diperlukan.

Mari kita ambil Warren Buffet sebagai contoh. Ia membeli rumah US$ 32 ribu pada 1958 dan masih menempati rumah itu selama puluhan tahun, kendati kekayaannya sudah bertumbuh ribuan kali lipat. Ia juga tak suka membeli barang-barang mewah. Ketika berdonasi, barulah ketahuan bahwa dia adalah 5 besar orang terkaya di dunia!

Saran lain, jangan membayar penuh. Beberapa orang kaya membeli barang di supermarket biasa bukan toko eksklusif. Kadang mereka membeli barang bekas atau bahkan menyewa. Tak semua harus dibeli, walaupun lagi punya uang. Misalnya, kereta bayi. Boleh-boleh saja disewa.

Saran lainnya? Hapus pengeluaran-pengeluaran yang tak perlu. Buat anggaran pengeluaran bulanan dengan rinci, lalu amati dan cermati dari bulan ke bulan. Harus terukur. Kenapa? Karena, hanya sesuatu yang terukur yang bisa ditingkatkan. Betul apa betul?

Saran terakhir, alokasikan 5% sampai 20% pendapatan kita untuk berinvestasi, setiap bulannya. Jadi, diri kita bekerja menghasilkan uang. Investasi kita juga bekerja menghasilkan uang. Mereka yang bermental miskin selalu beralasan bahwa mereka tidak punya cukup uang untuk berinvestasi. Benarkah tidak cukup uang? Padahal karena tak cukup kedisiplinan.

Be rich, be right. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah!